IDENTITAS DAN SINOPSIS NOVEL
Identitas Novel
- Judul : Cinta Tak Harus Memiliki
- Nama pengarang : Fredy S
- Nama penerbit : Bintang Indonesia, Jakarta
- Tebal : 128 halaman
- Ukuran : 11,5 X 17,5 cm
- Cetakan : Pertama
Sinopsis
Novel Cinta Tak Harus Memiliki karya Fredy S ini mengangkat cerita tentang seorang pemuda yang namanya Gilang ingin mendapatkan cinta dari seorang gadis yang dicintainya, tetapi tidak bisa memilikinya sebab gadis itu tidak mencintainya , tetapi gadis itu mencintai Pemuda lain. Gadis yang dicintai oleh Gilang itu bernama Nisa, mereka satu sekolahan di SMA NEGERI 2 Brebes. Nisa adalah siswa yang teladan dan sang primadona disekolah itu. Nisa mempunyai sahabat yang bernama Elina, dan Ismayanti. Pemuda yang dicintai Nisa adalah Dimas. Ia adalah siswa baru pindahan dari SMA Negeri 3 Tegal, merupakan SMA teladan dan terfavorit di provinsi Jawa Barat.
Pada suatu hari Gilang menghampiri Nisa yang berada di perpustakaan untuk mendapatkan kepastian Cinta yang diharapkannya, bukan hanya sekali ini ia berusaha meminta pengertian Nisa, namun tak sekali pun dia mendapatkan apa yang diharapkan nya. Dengan berbagai macam alasan, gadis itu selalu saja bisa mengelak darinya. Dengan wajah kecewa, dan dengan hati yang dipenuhi rasa cintanya yang dirasakan terpasung. Dia sangat menderita karena cintanya itu. Gadis itu benar-benar membuat hidupnya berubah .Bahkan semenjak dia merasakan ada cinta tumbuh dihatinya, Gilang lebih sering menyendiri, merenungi perjalanan cinta nya yang tak juga tergapai.
Sebelum mengenal apa yang namanya cinta, Gilang adalah sosok anak muda yang terkenal pemberani, Badung, tukang berkelahi dan suka membuat keributan serta Gilang dan ketiga teman karibnya suka pergi ke tempat hiburan.
Saat itu Gilang menuju kantin sekolah, melihat kedatangan nya siswa siswi yang sudah berada di kantin menyingkir mengamankan diri kecuali Nisa bersama teman dekatnya. Gilang tidak memperdulikan keadaan sekelilingnya. Karena tak sabaran, dia mengobrak abrik kantin karena pesanan nya tidak kunjung datang. semua panik, kecuali Nisa. Dengan penuh keberanian gadis itu bangun dari duduknya, kemudian menghadap Gilang yang sedang mengamuk. Gilang ingin memukul nya tetapi entah kenapa tatapan gadis itu melenyapkan segala nafsu amarah yang menguasai nya. Tanpa menyahuti kata kata Nisa, Gilang berbalik melangkah menuju tempat ibu pemilik kantin untuk meminta maaf, dan semua merasa heran dibuatnya. Dan Gilang pun berterima kasih kepada Nisa dan langsung beranjak meninggalkan kantin. Nisa pun tidak mengerti dan tidak percaya dengan kejadian itu.
Semenjak kejadian itu Gilang tak bisa melupakan Nisa barang sekejap mata pun. Sikap dan tingkah dia berubah 180 derajat. Dia berharap paling tidak menerima nya sebagai sahabat, dari persahabatan itu dia juga berharap akan terjalin antara dirinya dengan Nisa lambat laun akan tumbuh pertumbuhan cinta.
Pada saat itu Nisa mencari buku di Toko buku yang berada dipusat pembelanjaan di kota itu.
Ketika Nisa menginjakkan kakinya pada lif, seorang pemuda yang berada diatas berjarak satu tangga darinya, terjatuh dan menimpanya. Pemuda itu tak mampu mempertahankan keseimbangan tubuhnya setelah dengan sigap menolong seorang nenek yang tersenggol konsumen yang ingin cepat-cepat sampai diatas. Keduanya pun bergulingan dilantai. Pemuda itu berusaha melindungi kepala Nisa dengan tangan kanannya agar tidak terbentur lantai. Betapa terbelalaknya mata pemuda itu setelah menyapukan pandangannya ke sekujur tubuh Nisa dengan seksama. Tiba-tiba raut wajahnya berubah pucat dan tampak sangat takut. Pemuda itu gemetaran dengan keringat mulai bercucuran dari sekujur tubuhnya. Nisa sendiri pun ikut bingung dengan semua itu.
Rupanya Tuhan mendengar dan mengabulkan do'a dan harapan Nisa. Karena pemuda yang ditemui di mall, pagi itu muncul di sekolanya. Dia adalah siswa baru pindahan dari Tegal
Gadis itu sangat bahagia karena pemuda tampan penuh misteri yang telah membuat hatinya dihujani rasa penasaran yang menyiksa itu , kini datang kembali dalam hidupnya.saat itu matanya berpapasan dengan mata nisa. Tubuh cowok itu pun gemetaran bagai melihat hantu. Semua itu membuat para siswa yang melihat sikap anehnya itu terheran heran.
Bel istirahat pertama berdering. Saat itu tampak Dimas melangkah membawa sebuah majalah sastra mencari tempat yang yang agak sepi. Sementara dibelakang nya, Nisa bersama Elina membuntuti Dimas. Dalam diam elina mengerti dan menduga kalau hati sahabat nya itu sedang dipenuhi oleh perasaan cinta. Elina mulai mengira kalau pemuda itulah yang membuat Nisa berubah dalam keseharian nya akhir akhir ini. Langkah Dimas terhenti di bagian kiri taman depan sekolah yang ditumbuhi sederetan pohon beringin. Dan disana juga ada Gilang yang termenung dengan cintanya itu. Keduanya pun saling mengenal satu sama lain.
Pada saat itu sekolah mereka akan melakukan observasi kebudayaan. Dari jurusan IPS diketuai oleh Gilang dan Jurusan IPA diketuai oleh Nisa. Dan Dimas ditunjuk untuk mendampingi Nisa. Betapa bahagianya Gilang karena bisa satu tim dengan Nisa.
Ketika perjalanan pulang, Gilang melihat Mobil Nisa terhenti di tikungan. Sementara disebuah tempat yang agak tersembunyi, Dimas sudah babak belur menjadi bulan bulanan Edwar dan dua temannya. Nisa pun teriak histeris, Dan akan mengadu ke Gilang. Aduan itu mujarab, Nisa langsung menghampiri dimas untuk membersihkan lukanya. Dimas dipukuli dikira mendekati Nisa, padahal Nisa lah yang sangat mencintai Dimas. Nisa tersipu malu karena tanpa disadari mengungkapkan isi hatinya. Dan dia mau membawa dimas untuk diobati. Tetapi Dimas tidak mau dibawa oleh Nisa dan ingin Gilang membawanya. Mendengar rintihan dimas, pandangan Nisa langsung hampa disertai rasa malu yang bertubi tubi menusuk nusuk hatinya.
Setelah sampai di rumah Gilang, mereka langsung ke kamar untuk mengobati luka dimas, setelah itu Dimas diajak agar memberi tahu mengapa sikap dia begitu ke Nisa. Dan Dimas mulai menceritakannya kpd Gilang.
Hari yang ditunggu tunggu para siswa kelas IPA dan IPS akhirnya tiba, dengan menggunakan dua bus, mereka pun akhirnya berangkat menuju ke lokasi observasi yaitu dipantai Purwahamba.
Ketika Gilang melihat Nisa dibawah pohon itu menahan Dimas yang tampak ingin pergi. Dimas terus mengelak. Setelah mendengar ucapan Dimas yang mengatakan bahwa dirinya telah mati, Nisa langsung tak memiliki daya untuk menahan pemuda itu. Dimas langsung lar dengan segala kemampuan nya. Gilang langsung menghampiri Nisa yang terisak Isak, Nisa memeluk Gilang. Gilang mencoba melepaskan pelukannya tetapi Nisa tidak mau, dan dia hampir membuat Gilang tak percaya dengan ucapan Nisa yang seakan dia sudah berserah diri terserah mau apakan oleh Gilang. Setelah sadar dengan ucapannya, Nisa tertunduk malu pada dirinya sendiri dan juga kepada Gilang, selain itu malu kepada Tuhan. Setelah itu Nisa berterimakasih kepada Gilang karena dia terus berusaha menghiburnya dengan mengorbankan kebahagiaan nya.
Pada pagi hari Nisa mengajak Elina dan Ismayanti lari pagi. Ketika itu Ismayanti menjahili kedua sahabatnya itu dengan gosip yang membuat sahabatnya itu merasa kesel. Saat itu Ismayanti berlari memasuki pesisir pantai karna dia merasa menang dengan kejahilannya. Ternyata Ismayanti di ganggu oleh brandal ² ditempat itu. mendengar Ismayanti minta tolong, Nisa dan Elina langsung bergegas menuju suara tersebut. Dan mereka pun juga di kelilingi brandal bringas itu. Ketika elina berhasil menerobos kepungan itu, ia langsung minta bantuan ke orang yang berada di tenda. Mendengar teriakkan histeris yang menyebut nama nisa, Gilang bangkit dan langsung berlari ke arah elina. Dan langsung membantu untuk menyelamatkan Nisa dan Ismayanti dari kehormatan nya. Meskipun Gilang kewalahan menghadapi brandal² itu,dia tetap berusaha sekuat tenaga nya. Setelah keadaan aman, nisa langsung memeluk Gilang. Setelah itu Gilang dibawa kerumah sakit.
Nisa melihat pengorbanan Gilang, dan akhirnya ia mau membuka hatinya untuk Gilang karena dia sang dewa penyelamat. Mamah dan papah nya juga mendukung hubungan mereka. Ketika Nisa membuka halaman tengah buku hasil observasi Elina yang terlipat,ia tak mampu membendung keharuan dan kesedihan hatinya. Pada buku itu merupakan ungkapan isi hati Elina yang mencintai Gilang. Dan akhirnya Nisa membuat keputusan untuk tidak mencintai Gilang karena dia merasa bersalah kepada Elina.
Sementara Gilang, dia tiba-tiba tercenung ketika ingatannya melayang pada sahabat nya, Dimas yang tampaknya lebih menderita dibanding dirinya. Setelah berpikir, dia langsung ingin meyakinkan sahabat nya itu kalau Nisa bukanlah Rahayu, pacarnya dulu yang telah meninggal.
Setelah meyakinkan dimas, Gilang langsung mengantar Dimas menemui Nisa kerumahnya. Dan meminta Dimas untuk mengungkapkan perasaan nya ke nisa. Namun dia berjanji akan terus memelihara cintanya pada Nisa karena dia sangat sadar kalau cinta tak selamanya saling memiliki.
Sesampainya di rumah Nisa Dimas pun mengungkapkan isi hatinya, dan Nisa langsung menerima nya. Keduanya saling berpelukan erat.
Gilang berusaha tersenyum dalam kelukaan hatinya memandang Dimas dan Nisa saling berpelukan. Lalu Gilang meninggal kan sahabatnya yang sedang berbahagia dengan gadis pujaannya. Sedang dia diatas motor yang terus melesat menembus kelam dengan membawa hatinya yang terluka
Kelebihan Novel
Bahasanya mudah dipahami. Alur ceritanya mudah dimengerti. Pembaca seakan ikut berimajinasi ketika membaca novel ini.
Kekurangan Novel
Terlalu tipis, dan sebaiknya dilanjutkan kembali.
Tugas Akhir Bahasa Indonesia kelas 12 SMK Bhakti Kencana Citeureup Tahun Ajaran 2018/2019

Komentar
Posting Komentar